Cari Blog Ini

Senin, 05 Januari 2015

Hati-Hati Mengkonsumsi Gorengan

Gorengan adalah salah satu makanan yang paling banyak diminati oleh masyarakat.
Selain rasanya yang gurih, harganya yang terjangkau serta mudah didapat, menjadi faktor tersendiri bagi peminatnya.
Tapi, apakah anda tahu, jika membeli gorengan di sembarang tempat mungkin saja dapat membahayakan kesehatan.

Ingin tahu mengapa ? Yuk, kita simak di bawah ini :

Plastik Dalam Minyak Goreng

Saat makan Gorengan, suara yang di hasilkan adalah Kriiuukk... kriuukk... renyah, sebenarnya ada apa dibalik kerenyahan gorengan ini ?
Setelah diselidiki, ternyata terdapat segelintir pedagang gorengan nakal yang memasukkan plastik bersama minyak goreng.
Hasilnya, gorengan menjadi renyah, tahan lama, dan gurih. Pedagang yang menggoreng dengan resep ini mengaku mendapat konsumen lebih banyak sejak menerapkan teknik ini.
Gorengan bisa jadi lebih laku keras karena renyah dan gurih. Namun, jangan tanya soal efeknya bagi kesehatan.

Menurut peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Ani Retno, gorengan berplastik yang dikonsumsi dalam waktu lama sangat berpotensi menyebabkan kanker. Selain itu, plastik pada gorengan dapat menyebabkan kelumpuhan karena rusaknya jaringan saraf.
Pihak Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia,
YLKI, mendesak pemerintah untuk bersikap lebih proaktif mengawasi dan mengambil tindakan bagi penjual gorengan berplastik yang terbukti membahayakan kesehatan publik.
Sesuai undang-undang perlindungan konsumen, para pedagang gorengan berplastik ini dapat diancam hukuman lima tahun penjara.
[Dikutip dari Suara Pembaruan edisi Selasa, 1 Juli 2008]
Mencari strategi untuk mendapatkan keuntungan lebih di masa sulit seperti sekarang memang sah-sah saja. Namun, menghalalkan segala cara –termasuk memasukkan plastik dalam gorengan–tentu bukan tindakan bijaksana, terlebih jika
penyakit dan nyawa masyarakat luas yang
menjadi taruhannya.

Minyak Goreng Jelantah Atau Oplosan

Ternyata tidak sedikit pedagang yang memakai minyak goreng bekas (jelantah) atau minyak oplosan. Berdasarkan rasio penjualan, minyak goreng curah menguasai 90 persen pangsa pasar, sedangkan minyak goreng kemasan hanya 10 persen. Minyak goreng curah sebagian besar dikonsumsi oleh industri makanan seperti kacang goreng dan biskuit.
Minyak goreng oplosan membahayakan kesehatan. Oplosan miyak ini adalah minyak jelantah yang dicampur dengan oli bekas kendaraan bermotor.

Modal yang diperlukan sekitar Rp 6000 per liter dan dijual kembali mendekati harga normalnya yaitu Rp 10.000 – 11.000 per liter. Minyak ini dapat dijual dalam kemasan plastik per kilo maupun per jerigen. Dapat diperkirakan keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan minyak goreng berbahaya tersebut. Di lain sisi dapat diperkirakan pula besarnya masalah kesehatan yang ditimbulkan akibat banyaknya masyarakat yang tertipu karena tidak bisa membedakan minyak goreng murni dan minyak goreng berbahaya. Ciri-ciri minyak goreng oplosan adalah berbau tengik, berwarna lebih gelap dari minyak goreng asli, terdapat endapan di dasar minyak (berasal dari tepung terigu), serta timbul buih dan berasap saat dipanaskan.
Keanehan di atas tidak ditemukan pada minyak goreng asli yang sehat.

Dampak terlalu sering menyantap gorengan
dalam jangka panjang

Minyak jelantah memiliki ikatan asam lemak
jenuh. Selama proses menggoreng, minyak akan mengalami perubahan komposisi asam lemak serta kualitas minyak. Ikatan asam lemak ini sulit diurai oleh tubuh dan terbawa dalam aliran darah. Perlahan lemak ini akan mengendap pada pembuluh darah di jantung dan menyumbat aliran darah. Hal ini mengakibatkan peningkatan kadar kolesterol total, LDL (kolesterol jahat) dan trigliserida, serta penurunan kadar HDL (kolesterol baik) dalam darah. Penyumbatan pembuluh darah koroner dapat menyebabkan penyakit jantung, arterosklerosis (penyumbatan
pembuluh darah), stroke, diabetes, dan memicu pertumbuhan sel kanker. Awal pertumbuhan sel kanker dipicu oleh asam lemak minyak jenuh yang mengganggu susunan protein DNA dalam tubuh sehingga mengalami mutasi sel. Mutasi sel ini yang akan menumbuhkan sel kanker yang akan
berkembang 5-10 tahun. Tepung dari gorengan berpengaruh pada meningkatnya kadar gula darah yang mengakibatkan diabetes. Studi-studi dari laboratorium riset telah membawa kepada kesimpulan berikut:

1. Kanker yang disebabkan virus dapat diinduksi oleh lemak yang berlebihan.

2. Kanker yang disebabkan oleh zat kimia dapat diinduksi oleh lemak yang berlebihan.

3. Tumor-tumor yang ditransplantasikan kepada hewan dapat diinduksi oleh lemak yang berlebihan.

Jika gorengan diperas, coba tebak berapa
banyak minyak yang ada pada satu gorengan!
Minyak tersebut dapat meningkatkan kadar
kolesterol darah dan trigliserida. Hal ini tidak baik untuk kerja hati dan jantung. Kerja kedua organ ini menjadi lebih berat karena terhambat oleh kolesterol dan trigliserida yang membuat darah menjadi lebih kental.

Bahaya Kertas Pembungkus

Kertas pembungkus gorengan di satu sisi dapat menyerap minyak pada gorengan, tapi di sisi lain berdampak buruk bagi kesehatan. Tinta pada kertas terserap oleh gorengan. Tinta (kertas Koran/print-an) mengandung timbal yang dapat memicu pertumbuhan sel kanker. Pengonsumsian makanan yang mengandung timbal oleh ibu hamil akan mengakibatkan anaknya memiliki risiko
terkena autis.

Faringitis

Radang tenggorokan atau faringitis dapat
disebabkan oleh adanya infeksi pada tenggorokan. Infeksi ini dapat terjadi karena berbagai faktor seperti kuman, virus, atau alergi. Alergi bisa dipicu oleh makanan misalnya es atau goreng-gorengan yang minyaknya
menggunakan minyak jelantah.

Plastik Gorengan

Ini khusus untuk gorengan yang dibumbui
plastik. Plastik kresek, kemasan plastik
berbahan polivinil klorida (PVC) dan kemasan
makanan ‘styrofoam’ berisiko melepaskan bahan kimia yang bisa membahayakan kesehatan.
Monomer styrene yang tidak ikut bereaksi dapat terlepas bila berkontak dengan minyak panas atau makanan yang berminyak/berlemak /mengandung alkohol dalam keadaan panas.
Meskipun bila residunya kecil tidak menimbulkan bahaya, jika ditimbun terus-menerus, senyawa tersebut dapat memicu berbagai penyakit.

MSG dalam Gorengan

Gorengan biasanya ditambahkan penyedap/MSG (monosodium glutamate). Makanan yang
mengandung MSG bila dikonsumsi dalam jangka waktu lama akan berdampak buruk bagi kesehatan. MSG memiliki efek buruk terhadap susunan saraf pusat, efek alergi, atau pusing setelah pengonsumsian (post-restaurant syndrome).
Seorang dokter melakukan percobaan dengan
menyediakan 10 gorengan. Gorengan tersebut
kelihatannya sudah kering. Namun, setelah dihangatkan dalam oven dengan suhu tertentu selama 4-5 menit, minyak dari gorengan tersebut akan keluar dan meleleh dari gorengan.
Minyak tersebut kemudian ditadahkan ke kertas tissue dan dapat menghabiskan kira-kira 1/2 roll tissue per 10 gorengan. Hasil fisiknya tissue tersebut menjadi berwarna kuning kecokelatan.
Dari pengamatan tersebut, walaupun tidak
dilakukan dengan suatu analisis kuantitatif,
dapat dibayangkan jika setiap hari seseoraung memakan 10 buah gorengan, maka sebenarnya tubuhnya sedang menampung minyak sebanyak 1/2 roll tissue per 10 gorengan.

SOLUSI

tips yang cukup untuk membedakan dan
memilih gorengan

Untuk gorengan berplastik, biasanya lebih keras dari normalnya, terdapat noda putih. Mungkin kita perlu lebih berhati-hati dan lebih teliti karena tidak semua penjual gorengan melakukan perbuatan kreatif yang membahayakan itu.

• Perhatikan minyaknya! Kualitas minyak dilihat dari kejernihan dan baunya. Minyak, apa pun warnanya, jika jernih dan tidak tengik biasanya berarti bagus. Menurut Direktur South East Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center yang juga Ketua Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia, Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi M.Sc, ada kerancuan pada masyarakat dalam memilih minyak goreng. Masyarakat cenderung memilih berwarna bening kekuningan, padahal yang lebih baik adalah minyak goreng dari kelapa sawit yang berwarna merah. Minyak tersebut mengandung betakarotin yang merupakan provitamin A. Warna kekuningan muncul dari minyak yang telah mengalami beberapa penyaringan sehingga banyak vitamin A
yang hilang. Sebagai pengganti, banyak produsen menambahkan vitamin A dalam proses yang terkait. Proses penyaringan beberapa kali menentukan harga minyak. Makin banyak disaring, makin mahal harga minyak tersebut.

• Coba amati ketika penjual gorengan sedang
menggoreng dagangannya! Jika terlihat minyak mengeluarkan busa yang terlalu banyak, dicurigai bahwa minyak tersebut telah rusak dan kurang layak dipakai. Demi kesehatan,
pemakaian minyak goring diharapkan tidak lebih dari empat kali periode penggorengan. Jika warna minyak sudah terlihat kehitaman, menjadi kental dan timbul banyak buih ketika dipanaskan kembali sebaiknya minyak tersebut tidak digunakan kembali.

• Kertas pembungkus gorengan lebih baik diganti dengan yang lain, seperti kertas minyak untuk roti atau kertas cokelat (biasanya untuk bakpau)

• Kurangi makan gorengan sebisa mungkin!
Percaya atau tidak, bila kita mengurangi
gorengan maka cahaya mata menjadi putih
kebiruan (mata jernih). Jika masih
mengkonsumsi makanan digoreng, cahaya mata agak kekuningan. Hal tersebut menandakan organ hati sedang menanggulangi banjir minyak dan racun dari gorengan.
Serangkaian reaksi kimia terjadi pada minyak
goring yang talah dipakai berulang kali, antara lain hidrolisis, oksidasi termal, dan polimerasi termal yang menurunkan kualitas minyak goreng.
Untuk itu, kebanyakan ibu rumah tangga akan
membuang sisa minyak goreng tersebut setelah tiga atau empat kali menggoreng.

Source : Kaskus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar